Samantaka Minta Pemblokiran Rekening Mereka Dicabut

Jakarta: Direktur Utama PT Samantaka Batubara AM Rudy Herlambang memohon agar majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta mencabut pemblokiran rekening milik perusahaannya. Pemblokiran rekening membuat perusahaan sulit menggaji karyawan. 

Permintaan tersebut dilontarkan Rudy saat bersaksi untuk terdakwa bos Blackgold Natural Resources Ltd. Johannes Budisutrisno Kotjo. Rekening perusahaan Samantaka ikut diblokir Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran Samantaka anak perusahaan Blackgold.

“Kami mengalami kesulitan, karena sekarang ini capital loan dan dalam beberapa bulan ini gaji saja, saya harus ke sana kemari cari solusi. Mohon, Yang Mulia berkenan mengabulkan,” kata Rudy di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 18 Oktober 2018.

Ia menjelaskan, dalam satu bulan perusahaannya harus mengeluarkan uang untuk gaji pegawai hingga sekitar Rp1 miliar. Sementara, ada 150 hingga 200 pegawai yang bekerja di PT Samantaka.

(Baca juga: Eni Memfasilitasi Pertemuan BlackGold dengan PLN)

Ia khawatir para supplier menuntut perusahaannya. Ia menyebut, jika ada tiga tuntutan yang diajukan, maka perusahaan itu akan bermasalah. 

Ketua Majelis Hakim Lucas Prakoso mengaku tak bisa mengambil keputusan saat ini. Hal tersebut harus dipertimbangkan bersama empat anggota majelis hakim lainnya.

“Ya, bukan saya yang memutuskan, tapi lima orang di sini karena kami akan putuskan alasan yang masuk akal,” tegas dia. 

Johannes Kotjo dalam perkara ini didakwa menyuap Eni Maulani Saragih dan eks Menteri Sosial Idrus Marham sebesar Rp4,750 miliar. Suap kepada dua elite Partai Golkar itu dilakukan secara bertahap dari akhir 2017 hingga Juli 2018.

Suap diberikan pada 18 Desember 2017, 14 Maret 2018, 8 Juni 2018, dan 13 Juli 2018. Fulus itu diberikan agar Eni dan Idrus mengegolkan BlackGold Natural Recourses Limited sebagai pemenang lelang pembangunan PLTU Riau-1.
 

(REN)